Komposisi Cairan Tubuh
Kandungan air pada saat bayi lahir adalah sekitar 75% BB
dan pada saat berusia 1 bulan sekitar 65% BB. Komposisi cairan pada tubuh
dewasa pria adalah sekitar 60% BB, sedangkan pada dewasa wanita 50% BB. Sisanya
adalah zat padat seperti protein, lemak, karbohidrat, dll. Air dalam tubuh
berada di beberapa ruangan, yaitu intraseluler sebesar 40% dan ekstraseluler
sebesar 20%. Cairan ekstraseluler merupakan cairan yang terdapat di ruang
antarsel (interstitial) sebesar 15% dan plasma sebesar 5%. Cairan antarsel
khusus disebut cairan transeluler misalnya cairan serebrospinal, cairan
persendian, cairan peritoneum, dll.
Komposisi Elektrolit
Air melintasi membran sel dengan mudah, tetapi zat-zat lain sulit melintasinya atau membutuhkan proses khusus supaya dapat melintasinya; oleh sebab itu komposisi elektrolit di luar dan di dalam sel berbeda. Cairan intraseluler banyak mengandung ion K, Mg dan fosfat; sedangkan cairan ekstraseluler banyak mengandung ion Na dan Cl.
Air melintasi membran sel dengan mudah, tetapi zat-zat lain sulit melintasinya atau membutuhkan proses khusus supaya dapat melintasinya; oleh sebab itu komposisi elektrolit di luar dan di dalam sel berbeda. Cairan intraseluler banyak mengandung ion K, Mg dan fosfat; sedangkan cairan ekstraseluler banyak mengandung ion Na dan Cl.
Gangguan Keseimbangan Cairan
1. Dehidrasi
2. Syok hipovolemik
1. Dehidrasi
2. Syok hipovolemik
Gangguan Keseimbangan
Elektrolit
1. Hiponatremia
Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (< 135 mEq/L) Causa : CHF, gangguan ginjal dan sindroma nefrotik, hipotiroid, penyakit Addison Tanda dan Gejala : • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam, pasien mungkin mual, muntah, sakit kepala dan keram otot. • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam, bisa terjadi sakit kepala hebat, letargi, kejang, disorientasi dan koma. • Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti gagal jantung, penyakit Addison). • Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan, mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi 2. Hipernatremia Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L)
Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik, diuresis osmotik, diabetes insipidus, sekrosis tubulus akut, uropati pasca obstruksi, nefropati hiperkalsemik; atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain.
1. Hiponatremia
Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (< 135 mEq/L) Causa : CHF, gangguan ginjal dan sindroma nefrotik, hipotiroid, penyakit Addison Tanda dan Gejala : • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam, pasien mungkin mual, muntah, sakit kepala dan keram otot. • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam, bisa terjadi sakit kepala hebat, letargi, kejang, disorientasi dan koma. • Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti gagal jantung, penyakit Addison). • Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan, mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi 2. Hipernatremia Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L)
Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik, diuresis osmotik, diabetes insipidus, sekrosis tubulus akut, uropati pasca obstruksi, nefropati hiperkalsemik; atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain.
Tanda dan Gejala : iritabilitas
otot, bingung, ataksia, tremor, kejang dan koma yang sekunder terhadap
hipernatremia.
3. Hipokalemia
Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (< 3,5 mEq/L) Etiologi • Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah, sedot nasogastrik, diare, sindrom malabsorpsi, penyalahgunaan pencahar) • Diuretik • Asupan K+ yang tidak cukup dari diet • Ekskresi berlebihan melalui ginjal • Maldistribusi K+ • Hiperaldosteron Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal), mungkin arefleksia, hipotensi ortostatik, penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel, reentry phenomena, dan kelainan konduksi. EKG sering memperlihatkan gelombang T datar, gelombang U, dan depresi segmen ST. 4. Hiperkalemia Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5,5 mEq/L)
Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (< 3,5 mEq/L) Etiologi • Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah, sedot nasogastrik, diare, sindrom malabsorpsi, penyalahgunaan pencahar) • Diuretik • Asupan K+ yang tidak cukup dari diet • Ekskresi berlebihan melalui ginjal • Maldistribusi K+ • Hiperaldosteron Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal), mungkin arefleksia, hipotensi ortostatik, penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel, reentry phenomena, dan kelainan konduksi. EKG sering memperlihatkan gelombang T datar, gelombang U, dan depresi segmen ST. 4. Hiperkalemia Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5,5 mEq/L)
Etiologi :
• Ekskresi renal tidak adekuat; misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik, diuretik hemat kalium, penghambat ACE.
• Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries), pembedahan mayor, luka bakar, emboli arteri akut, hemolisis, perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam, transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan.
• Perpindahan dari intra ke ekstraseluler; misalnya pada asidosis, digitalisasi, defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah.
• Insufisiensi adrenal
• Pseudohiperkalemia. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama
• Hipoaldosteron
• Ekskresi renal tidak adekuat; misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik, diuretik hemat kalium, penghambat ACE.
• Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries), pembedahan mayor, luka bakar, emboli arteri akut, hemolisis, perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam, transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan.
• Perpindahan dari intra ke ekstraseluler; misalnya pada asidosis, digitalisasi, defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah.
• Insufisiensi adrenal
• Pseudohiperkalemia. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama
• Hipoaldosteron
Tanda dan Gejala : Efek
terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. EKG memperlihatkan
perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. Pada
permulaan, terlihat gelombang T runcing (K+ > 6,5 mEq/L). Ini disusul dengan
interval PR memanjang, amplitudo gelombang P mengecil, kompleks QRS melebar (K+
= 7 sampai 8 mEq/L). Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola
sine-wave. Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10
mEq/L. Temuan-temuan lain meliputi parestesi, kelemahan, arefleksia dan paralisis
ascenden.
Fungsi Cairan Tubuh Manusia, Gejala Dehidrasi Dan Cara Mengatasi Kehilangan Cairan Tubuh
A. Peran / Manfaat / Kegunaan / Fungsi Cairan Tubuh Manusia
Air merupakan bagian terbesar dari komposisi tubuh manusia. Hampir semua reaksi di dalam tubuh manusia memerlukan cairan. Agar metabolisme tubuh berjalan dengan baik, dibutuhkan masukan cairan setiap hari untuk menggantikan cairan yang hilang.
Fungsi cairan tubuh antara lain :
1- Mengatur suhu tubuh
Bila kekurangan air, suhu tubuh akan menjadi panas dan naik.
Bila kekurangan air, suhu tubuh akan menjadi panas dan naik.
2- Melancarkan peredaran darah
Jika tubuh kita kurang cairan, maka darah akan mengental. Hal ini disebabkan cairan dalam darah tersedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Proses tersebut akan berpengaruh pada kinerja otak dan jantung.
Jika tubuh kita kurang cairan, maka darah akan mengental. Hal ini disebabkan cairan dalam darah tersedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Proses tersebut akan berpengaruh pada kinerja otak dan jantung.
3- Membuang racun dan sisa makanan
Tersedianya cairan tubuh yang cukup dapat membantu mengeluarkan racun dalam tubuh. Air membersihkan racun dalam tubuh melalui keringat, air seni, dan pernafasan.
Tersedianya cairan tubuh yang cukup dapat membantu mengeluarkan racun dalam tubuh. Air membersihkan racun dalam tubuh melalui keringat, air seni, dan pernafasan.
4- Kulit
Air sangat penting untuk mengatur struktur dan fungsi kulit. Kecukupan air dalam tubuh berguna untuk menjaga kelembaban, kelembutan, dan elastisitas kulit akibat pengaruh suhu udara dari luar tubuh.
Air sangat penting untuk mengatur struktur dan fungsi kulit. Kecukupan air dalam tubuh berguna untuk menjaga kelembaban, kelembutan, dan elastisitas kulit akibat pengaruh suhu udara dari luar tubuh.
5- Pencernaan
Peran air dalam proses pencernaan untuk mengangkut nutrisi dan oksigen melalui darah untuk segera dikirim ke sel-sel tubuh. Konsumsi air yang cukup akan membantu kerja sistem pencernaan di dalam usus besar karena gerakan usus menjadi lebih lancar, sehingga feses pun keluar dengan lancar.
Peran air dalam proses pencernaan untuk mengangkut nutrisi dan oksigen melalui darah untuk segera dikirim ke sel-sel tubuh. Konsumsi air yang cukup akan membantu kerja sistem pencernaan di dalam usus besar karena gerakan usus menjadi lebih lancar, sehingga feses pun keluar dengan lancar.
6- Pernafasan
Paru-paru memerlukan air untuk pernafasan karena paru-paru harus basah dalam bekerja memasukkan oksigen ke sel tubuh dan memompa karbondioksida keluar tubuh. Hal ini dapat dilihat apabila kita menghembuskan nafas ke kaca, maka akan terlihat cairan berupa embun dari nafas yang dihembuskan pada kaca.
Paru-paru memerlukan air untuk pernafasan karena paru-paru harus basah dalam bekerja memasukkan oksigen ke sel tubuh dan memompa karbondioksida keluar tubuh. Hal ini dapat dilihat apabila kita menghembuskan nafas ke kaca, maka akan terlihat cairan berupa embun dari nafas yang dihembuskan pada kaca.
7- Sendi dan otot
Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan otot. Otot tubuh akan mengempis apabila tubuh kekurangan cairan. Oleh sebab itu, perlu minum air dengan cukup selama beraktivitas untuk meminimalisir resiko kejang otot dan kelelahan.
Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan otot. Otot tubuh akan mengempis apabila tubuh kekurangan cairan. Oleh sebab itu, perlu minum air dengan cukup selama beraktivitas untuk meminimalisir resiko kejang otot dan kelelahan.
8- Pemulihan penyakit
Air mendukung proses pemulihan ketika sakit karena asupan air yang memadai berfungsi untuk menggantikan cairan tubuh yang terbuang.
Air mendukung proses pemulihan ketika sakit karena asupan air yang memadai berfungsi untuk menggantikan cairan tubuh yang terbuang.
B. Hilangnya Cairan Tubuh Manusia
Kehilangan cairan tubuh dapat bersifat :
a. Normal
Hal tersebut terjadi akibat pemaakaian energi tubuh. Kehilangan cairan sebesar 1 ml terjadi pada pemakaian kalori sebesar 1 kal.
Hal tersebut terjadi akibat pemaakaian energi tubuh. Kehilangan cairan sebesar 1 ml terjadi pada pemakaian kalori sebesar 1 kal.
b. Abnormal
Terjadi karena berbagai penyakit atau keadaan lingkungan seperti suhu lingkungan yang terlalu tinggi atau rendah.
Terjadi karena berbagai penyakit atau keadaan lingkungan seperti suhu lingkungan yang terlalu tinggi atau rendah.
Pengeluaran cairan yang banyak dari dalam tubuh tanpa diimbangi pemasukkan cairan yang memadai dapat berakibat dehidrasi.
Dehidrasi adalah keadaan dimana tubuh kehilangan cairan elektrolit yang sangat dibutuhkan organ-organ tubuh untuk bisa menjalankan fungsinya dengan baik.
Saat dehidrasi, tubuh dengan terpaksa menyedot cairan baik dari darah maupun organ-organ tubuh lainnya.
C. Gejala Dehidrasi
Berikut ini adalah berbagai gejala dehidrasi sesuai tingkatannya :
- Dehidrasi ringan
Muka memerah
Rasa sangat haus
Kulit kering dan pecah-pecah
Volume urine berkurang dengan warna lebih gelap dari biasanya
Pusing dan lemah
Kram otot terutama pada kaki dan tangan
Kelenjar air mata berkurang kelembabannya
Sering mengantuk
Mulut dan lidah kering dan air liur berkurang
Muka memerah
Rasa sangat haus
Kulit kering dan pecah-pecah
Volume urine berkurang dengan warna lebih gelap dari biasanya
Pusing dan lemah
Kram otot terutama pada kaki dan tangan
Kelenjar air mata berkurang kelembabannya
Sering mengantuk
Mulut dan lidah kering dan air liur berkurang
- Dehidrasi sedang
Tekanan darah menurun
Pingsan
Kontraksi kuat pada otot lengan, kaki, perut, dan punggung
Kejang
Perut kembung
Gagal jantung
Ubun-ubun cekung
Denyut nadi cepat dan lemah
Tekanan darah menurun
Pingsan
Kontraksi kuat pada otot lengan, kaki, perut, dan punggung
Kejang
Perut kembung
Gagal jantung
Ubun-ubun cekung
Denyut nadi cepat dan lemah
- Dehidrasi Berat
Kesadaran berkurang
Tidak buang air kecil
Tangan dan kaki menjadi dingin dan lembab
Denyut nadi semakin cepat dan lemah hingga tidak teraba
Tekanan darah menurun drastis hingga tidak dapat diukur
Ujung kuku, mulut, dan lidah berwarna kebiruan
Kesadaran berkurang
Tidak buang air kecil
Tangan dan kaki menjadi dingin dan lembab
Denyut nadi semakin cepat dan lemah hingga tidak teraba
Tekanan darah menurun drastis hingga tidak dapat diukur
Ujung kuku, mulut, dan lidah berwarna kebiruan
D. Mengembalikan Cairan Tubuh Yang Hilang
Untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang, kita harus banyak minum minimal 8 gelas (± 2 liter ) air setiap hari yang bisa didapat dari :
- Air putih yang higienis/air mineral
Air putih mengandung beberapa zat penting untuk tubuh seperti oksigen, magnesium, sulfur, dan klorida.
Air putih mengandung beberapa zat penting untuk tubuh seperti oksigen, magnesium, sulfur, dan klorida.
- Air berion
Air berion tidak hanya menghilangkan dahaga melainkan juga berfungsi sebagai sumber energi seperti halnya karbohidrat, lipid, dan protein. Air berion bekerja sebagai perantara dalam reaksi-reaksi biokimia dan berperan dalam proses metabolisme tubuh sehingga dapat mengembalikan kesegaran otot tubuh setelah beraktivitas mengeluarkan keringat dengan cepat.
Air berion tidak hanya menghilangkan dahaga melainkan juga berfungsi sebagai sumber energi seperti halnya karbohidrat, lipid, dan protein. Air berion bekerja sebagai perantara dalam reaksi-reaksi biokimia dan berperan dalam proses metabolisme tubuh sehingga dapat mengembalikan kesegaran otot tubuh setelah beraktivitas mengeluarkan keringat dengan cepat.
- Jus buah
Selain rasanya nikmat dan segar, jus buah mengandung beragam vitamin dan mineral yang menyehatkan. Menurut penelitian, jus jambu biji mengandung vitamin C sebanyak 3-6 kali lebih tinggi dibandingkan jus jeruk, 10 kali lebih tinggi dibandingkan pepaya, dan 10-30 kali lebih tinggi dibanding pisang. Namun, atlet kurang disarankan meminum jus buah saat berolahraga karena cairan padatnya tidak mudah terserap tubuh.
Selain rasanya nikmat dan segar, jus buah mengandung beragam vitamin dan mineral yang menyehatkan. Menurut penelitian, jus jambu biji mengandung vitamin C sebanyak 3-6 kali lebih tinggi dibandingkan jus jeruk, 10 kali lebih tinggi dibandingkan pepaya, dan 10-30 kali lebih tinggi dibanding pisang. Namun, atlet kurang disarankan meminum jus buah saat berolahraga karena cairan padatnya tidak mudah terserap tubuh.
Jadi, sebelum Anda bermasalah dengan cairan tubuh, jagalah kadar air dalam tubuh Anda.
DARAH
1. Fungsi Darah.
Fungsi darah dalam tubuh manusia yaitu :
1. mengangkut zat makanan serta mengangkut zat metabolisme juga,
2. mengedarkan hormon kedalam seluruh lapisan tubuh manusia
3. menjaga suhu tubuh agar tetap stabil,
4. melakukan pembekuan darah yang mana tu kan diperlukan,
5. membunuh kuman-kuman penyakit penyebab terjadinya infeksi.
2. Plasma Darah.
Plasma darah dalam tubuh manusia merupakn zat anti bodi bagi manusia. Plasma darah juga punya ciri umum yaitu plasma darah merupakan cairan darah yang punya warna merah kekuningan. Karena Plasma darah ini tersusun dari 90%air dan protein terlarut (albumin,globumin, dan fibrinogen). Apabila plasma darah diambil fibrinogennya maka yang akan tersisa adalah suatu cairan yang berwarna kuning yang biasa dinamakan serum (di dalam serum terdapat zat antibodi).
3. Sel Darah Merah (Eritrosit).
Bentuk sel darah merah itu bentuknya bulat, bikonkaf, tidak berinti, dinding elastis, serta fleksibel. Sel darah merah itu mengandung hemoglobin yang bisa menyebabkan darah ini berwarna merah. Hemoglobin ini mempunyai fungsi yaitu untuk mengikat oksigen serta mengedarkannya ke dalam seluruh lapisan sel tubuh manusia. Sel darah merah ini dibentuk pada sumsum tulang merah yang letaknya di dalam tulang pipih dan tulang pendek. Sel darah merah hanya dapat hidup selama 120 hari.
4. Sel Darah Putih (Leukosit).
Selain sel darah merah, dalam manusia juga terdapat sel darah putih (leukosit). Leukosit atau sel darah putih berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap kuman-kuman penyakit yang menyerang tubuh dengan cara memakan kuman-kuman penyakit (fagosit). Lekosit memiliki ciri-ciri yaitu : tak berwarna (bening), bentuk tidak tetap, berinti, serta mempunyai ukuran lebih besar dari pada sel darah merah. Berdasarkan bentuknya,sel darah putih atau leukosit terbagi menjadi 4 yaitu sebagai berikut:
1. Neutrofil punya fungsi yaitu sebagai fagositosis serta memiliki bintik kebiruan.
2. Eosinofil mempunyai bintik berwarna merah.
3. Basofil mempunyai granula berwarna biru.
4. Monosit memilki inti sel yang besar serta berbentuk bulat atau bulat panjang.
5. Limfosit memiliki inti dengan bentuk hampir bundar.
5. Trombosit (Keping darah).
Keping darah mempunyai ukuran yang paling kecil dengan yang lainya , bentuknya pun nggak teratur,serta tidak memiliki inti sel. Trombosit dibuatnya di dalam sumsum merah pada tulang pipih dan tulang pendek. Trombosit (keping darah) berfungsi untuk pembekuan darah. Pembekuan darah ini terjadi jika pada saluran darah terjadi sobek atau luka sehingga darah berhenti mengalir keluar dari saluran darah.
1. Fungsi Darah.
Fungsi darah dalam tubuh manusia yaitu :
1. mengangkut zat makanan serta mengangkut zat metabolisme juga,
2. mengedarkan hormon kedalam seluruh lapisan tubuh manusia
3. menjaga suhu tubuh agar tetap stabil,
4. melakukan pembekuan darah yang mana tu kan diperlukan,
5. membunuh kuman-kuman penyakit penyebab terjadinya infeksi.
2. Plasma Darah.
Plasma darah dalam tubuh manusia merupakn zat anti bodi bagi manusia. Plasma darah juga punya ciri umum yaitu plasma darah merupakan cairan darah yang punya warna merah kekuningan. Karena Plasma darah ini tersusun dari 90%air dan protein terlarut (albumin,globumin, dan fibrinogen). Apabila plasma darah diambil fibrinogennya maka yang akan tersisa adalah suatu cairan yang berwarna kuning yang biasa dinamakan serum (di dalam serum terdapat zat antibodi).
3. Sel Darah Merah (Eritrosit).
Bentuk sel darah merah itu bentuknya bulat, bikonkaf, tidak berinti, dinding elastis, serta fleksibel. Sel darah merah itu mengandung hemoglobin yang bisa menyebabkan darah ini berwarna merah. Hemoglobin ini mempunyai fungsi yaitu untuk mengikat oksigen serta mengedarkannya ke dalam seluruh lapisan sel tubuh manusia. Sel darah merah ini dibentuk pada sumsum tulang merah yang letaknya di dalam tulang pipih dan tulang pendek. Sel darah merah hanya dapat hidup selama 120 hari.
4. Sel Darah Putih (Leukosit).
Selain sel darah merah, dalam manusia juga terdapat sel darah putih (leukosit). Leukosit atau sel darah putih berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap kuman-kuman penyakit yang menyerang tubuh dengan cara memakan kuman-kuman penyakit (fagosit). Lekosit memiliki ciri-ciri yaitu : tak berwarna (bening), bentuk tidak tetap, berinti, serta mempunyai ukuran lebih besar dari pada sel darah merah. Berdasarkan bentuknya,sel darah putih atau leukosit terbagi menjadi 4 yaitu sebagai berikut:
2. Eosinofil mempunyai bintik berwarna merah.
3. Basofil mempunyai granula berwarna biru.
4. Monosit memilki inti sel yang besar serta berbentuk bulat atau bulat panjang.
5. Limfosit memiliki inti dengan bentuk hampir bundar.
5. Trombosit (Keping darah).
Keping darah mempunyai ukuran yang paling kecil dengan yang lainya , bentuknya pun nggak teratur,serta tidak memiliki inti sel. Trombosit dibuatnya di dalam sumsum merah pada tulang pipih dan tulang pendek. Trombosit (keping darah) berfungsi untuk pembekuan darah. Pembekuan darah ini terjadi jika pada saluran darah terjadi sobek atau luka sehingga darah berhenti mengalir keluar dari saluran darah.
Golongan darah
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena
adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting
adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia
ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh,
hanya saja lebih jarang dijumpai.Transfusi darah dari golongan yang tidak
kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia
hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
Golongan darah manusia ditentukan
berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang
terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:
§
Individu dengan golongan darah A memiliki sel
darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan
antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya.
Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari
orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.
§
Individu dengan golongan darah B memiliki
antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap
antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif
hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau
O-negatif
§
Individu dengan golongan darah AB memiliki sel
darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap
antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat
menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien
universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat
mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.
§
Individu dengan golongan darah O memiliki sel
darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B.
Sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya
kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor
universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat
menerima darah dari sesama O-negatif.
Secara umum, golongan darah O adalah
yang paling umum dijumpai di dunia, meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia,
golongan darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen
B. Karena golongan darah AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B,
golongan darah ini adalah jenis yang paling jarang dijumpai di dunia.
Ilmuwan Austria, Karl
Landsteiner, memperoleh penghargaan Nobel dalam
bidang Fisiologi dan Kedokteran pada
tahun 1930 untuk
jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.
Transfusi Darah adalah
proses pemindahan darah dari donor yang sehat kepada penderita. Pada tahun 1900 Dr. Loustiner menemukan 4 macam golongandarah :
1. Golongan darah A
2. Golongan darah B
3. Golongan darah AB
4. Golongan darah O
Selain itu tahun 1940 ditemukan golongan darah baru yaitu Rhesus Faktor positif dan rhesus faktor negatif pada sel darah merah (erythrocyt). RhesusFaktor positif banyak terdapat pada orang Asia dan Negatif Pada orang Eropah, Amerika, Australia.
Imunologi Dasar
: Superantigen
Superantigens
(sags) adalah kelas antigen yang menyebabkan aktivasi on-spesifik T-sel,
berakibat aktivasi sel T oligoclonal dan pengeluaran masif sitokin rilis Sags
dapat diproduksi oleh patogen mikroba (termasuk virus , Mycoplasma , dan
bakteri ) sebagai mekanisme pertahanan terhadap sistem kekebalan tubuh.
Dibandingkan dengan antigen normal yang diinduksi respon sel T 0,001-0,0001%
dari tubuh sel T diaktifkan, sags mampu mengaktifkan hingga 20% dari tubuh
T-sel. Selain itu, Anti- CD3 dan Anti- CD28 Antibodi ( CD28-SuperMAB) juga
telah terbukti superantigens sangat ampuh (dan dapat mengaktifkan hingga 100%
sel T.
Banyaknya ativated
T-cells generates menghasilkan respon imun yang besar yang tidak spesifik untuk
setiap tertentu epitop pada SAG sehingga melemahkan salah satu kekuatan
fundamental dari sistem imun adaptif , yaitu kemampuannya untuk menargetkan
antigen dengan kekhususan tinggi. Lebih penting lagi, sejumlah besar sel
T teraktivasi mensekresi sejumlah besar sitokin (yang paling penting adalah
TNF-alpha ). TNF-alpha ini sangat penting sebagai bagian dari respon
inflamasi tubuh, dan dalam keadaan normal (di mana dilepaskan secara lokal di
tingkat rendah) membantu patogen sistem kekebalan kekalahan. Namun ketika
dirilis secara sistemik dalam darah dan kadar tinggi (karena massa sel T
aktivasi yang dihasilkan dari SAG mengikat), dapat menyebabkan gejala parah dan
mengancam jiwa, termasuk syok dan kegagalan organ multiple .
Struktur Sags
diproduksi secara intraseluler oleh bakteri dan dilepaskan terhadap infeksi
sebagai racun matang ekstraseluler. Urutan toksin ini relatif
dilestarikan antara subkelompok yang berbeda. Lebih penting dari homologi
urutan, struktur 3D sangat mirip antara sags berbeda mengakibatkan efek
fungsional serupa di antara kelompok yang berbeda.
Struktur kristal dari
enterotoksin mengungkapkan bahwa mereka yang kompak, ellipsoid protein berbagi
pola dua domain karakteristik lipat terdiri dari NH2-terminal β barel globular
domain dikenal sebagai oligosakarida / oligonukleotida kali lipat, panjang
α-heliks yang membentang diagonal tengah molekul, dan terminal domain COOH
bulat. Domain memiliki daerah mengikat untuk histokompatibilitas
Kompleks Mayor Kelas II ( MHC Kelas II ) dan reseptor sel T (TCR),
masing-masing.
Superantigens mengikat
pertama yang MHC kelas II dan kemudian berkoordinasi untuk alpha variabel atau
rantai beta dari T-sel Reseptor (TCR)
Sags menunjukkan
preferensi untuk HLA-DQ bentuk molekul. Binding rantai α-SAG menempatkan pada
posisi yang tepat untuk mengkoordinasikan dengan TCR.
Tidak seperti umumnya,
sags menempel pada polimorfik MHC kelas II β-rantai dalam sebuah interaksi
dimediasi oleh seng kompleks koordinasi ion antara tiga residu SAG dan wilayah
yang sangat lestari dari HLA-DR rantai β. Penggunaan ion seng dalam memimpin
mengikat interaksi afinitas yang lebih tinggi. Beberapa sags staphylococcal
mampu silang molekul MHC dengan mengikat kedua rantai α dan β. Mekanisme
ini merangsang sitokin ekspresi dan rilis pada antigen presenting sel serta
merangsang produksi molekul costimulatory yang memungkinkan sel untuk mengikat
dan mengaktifkan sel T lebih efektif.
Sebuah SAG diberikan
dapat mengaktifkan sebagian besar penduduk T-sel karena repertoar T-sel manusia
terdiri hanya sekitar 50 jenis unsur Vβ dan beberapa sags mampu mengikat
beberapa jenis daerah VB. Interaksi ini sedikit bervariasi di antara berbagai
kelompok sags. Variabilitas di antara orang yang berbeda dalam jenis sel T
daerah yang lazim menjelaskan mengapa beberapa orang merespon lebih kuat
terhadap sags tertentu. Kelompok I sags menghubungi Vβ pada CDR2 daerah dan
kerangka molekul. Sags dari Kelompok II berinteraksi dengan wilayah Vβ
menggunakan mekanisme yang konformasi -dependen. Interaksi ini adalah
untuk bagian yang paling independen dari asam amino tertentu Vβ samping
rantai. Hal itu menggantikan peptida antigenik jauh dari TCR dan
circumvents mekanisme normal untuk T-sel aktivasi.
SEC3
(yellow) complexed with an MHC class II molecule (green & cyan).
Kekuatan biologis dari
SAG (kemampuannya untuk merangsang) ditentukan oleh nya afinitas untuk TCR.
Sags dengan afinitas tertinggi untuk TCR mendapat respon yang kuat.
SPMEZ-2 adalah SAG paling ampuh ditemukan sampai saat ini.
T-sel signaling The
SAg menghubungkan MHC dan TCR menginduksi jalur sinyal yang mengakibatkan
proliferasi sel dan produksi sitokin. Rendahnya tingkat Zap-70 telah
ditemukan di T-sel diaktifkan oleh sags, menunjukkan bahwa jalur sinyal normal
sel T aktivasi terganggu. Hal ini diduga bahwa Fyn bukan LCK
diaktifkan oleh tirosin kinase , yang menyebabkan induksi adaptif anergi.
Kedua protein kinase C dan jalur jalur protein tirosin kinase diaktifkan,
sehingga upregulating produksi sitokin proinflamasi.
Jalur sinyal
alternatif ini merusak kalsium / kalsineurin dan Ras / MAPkinase jalur sedikit,
tetapi memungkinkan untuk respon inflamasi terfokus.
Skema
MHC class II.
Efek
langsung
Stimulasi Sag antigen
sel peyaji dan T-sel menghasilkan tanggapan yang terutama inflamasi, difokuskan
pada aksi Th1 T-helper sel. Beberapa produk utama IL-1 , IL-2 , IL-6 , TNF-α ,
interferon gamma (IFN-γ), makrofag inflamasi protein 1α (MIP-1α), MIP-1β, dan
monosit chemoattractant protein 1 ( MCP-1 ). Mekanisme ini tidak
terkoordinasi berlebihan sitokin, (terutama TNF-α), overloads tubuh dan
menghasilkan ruam, demam , dan dapat menyebabkan multi-organ, koma kegagalan
dan kematian.
Penghapusan atau
anergi dari diaktifkan T-sel berikut infeksi. Hal itu adalah hasil
dari produksi IL-10 dari kontak yang terlalu lama racun. IL-10 downregulates
produksi, IL-2 MHC kelas II, dan molekul costimulatory di permukaan APC. Efek
ini menghasilkan sel memori yang tidak responsif terhadap stimulasi antigen.
Salah satu mekanisme
dimana hal ini mungkin melibatkan sitokin penekanan sel-T. Silang MHC juga
mengaktifkan jalur sinyal yang menekan hematopoiesis dan meregulasi
Fas-mediated apoptosis .
IFN-α adalah produk
lain dari paparan SAG berkepanjangan. Sitokin ini terkait erat dengan
induksi autoimunitas, dan penyakit autoimun Penyakit Kawasaki diketahui
disebabkan oleh infeksi Sag.
Sag aktivasi T-sel
menyebabkan produksi CD40 ligan yang mengaktifkan beralih isotipe dalam sel B
untuk IgG dan IgM dan IgE .
Untuk meringkas, T-sel
dirangsang dan menghasilkan jumlah kelebihan sitokin menghasilkan sitokin
penekanan T-sel dan penghapusan sel diaktifkan kembali sebagai tubuh untuk
homeostasis. Efek toksin dari mikroba dan SAG juga kerusakan jaringan dan
sistem organ, kondisi yang dikenal sebagai Toxic Shock Syndrome .
Jika peradangan awal
selamat, sel inang menjadi anergic atau akan dihapus, sehingga sistem kekebalan
tubuh yang terancam.
Superantigenicity
independen
Selain aktivitas
mitogenik mereka, sags dapat menyebabkan gejala yang merupakan ciri khas dari
infeksi. Salah satu efek tersebut adalah emesis .Efek ini terasa di
kasus keracunan makanan , ketika SAG bakteri penghasil melepaskan toksin, yang
sangat tahan terhadap panas. Ada Wilayah ini terdiri dari molekul yang
aktif dalam mendorong gastrointestinal toksisitas. Kegiatan ini juga sangat
ampuh , dan jumlah sekecil 20-35ug dari SAG dapat menginduksi muntah.
Sags mampu merangsang
rekrutmen neutrofil ke tempat infeksi dalam cara yang independen dari sel T
stimulasi. Efek ini disebabkan kemampuan sags untuk mengaktifkan
monocytic sel, menstimulasi pelepasan sitokin TNF-α, yang menyebabkan
peningkatan ekspresi molekul adhesi yang merekrut leukosit ke daerah yang
terinfeksi. Hal ini menyebabkan peradangan di paru-paru, jaringan usus, dan
setiap tempat bahwa bakteri telah dijajah . Sementara sejumlah kecil
peradangan alami dan membantu, berlebihan peradangan dapat menyebabkan
kerusakan jaringan.
Salah satu efek tidak
langsung lebih berbahaya dari infeksi Sag menyangkut kemampuan sags untuk
menambah efek endotoksin dalam tubuh. Hal ini dicapai dengan mengurangi
ambang batas untuk endotoxicity. Schlievert menunjukkan bahwa, bila diberikan
conjunctively, efek dari SAG dan endotoksin yang diperbesar sebanyak 50 000
kali. Hal ini bisa disebabkan oleh efisiensi sistem berkurang kekebalan
yang disebabkan oleh infeksi Sag. Selain dari sinergis hubungan antara
endotoksin dan SAG, yang “hit ganda” efek dari aktivitas endotoksin dan hasil
SAG dalam efek yang lebih buruk yang yang terlihat pada infeksi bakteri yang
khas. Hal ini juga berimplikasi sags dalam perkembangan sepsis pada pasien
dengan infeksi bakteri.
The T-cell receptor complex
dengan TCR-α and TCR-β chains, CD3 dan ζ-chain accessory molecules.
Penyakit
yang berhubungan dengan produksi superantigen
§ Toxic Shock Syndrome
§ Penyakit Kawasaki
§ Eksim
§ Guttate psoriasis
§ Rheumatoid arthritis
§ Diabetes mellitus
§ Scarlet demam
§ Nasal polip
Pengobatan
Tujuan utama dari
pengobatan adalah menghilangkan mikroba yang memproduksi sags. Hal ini dicapai
melalui penggunaan vasopressors , resusitasi cairan dan antibiotik .
Tubuh secara alami
menghasilkan antibodi untuk beberapa sags, dan efek ini dapat ditambah dengan
merangsang sel-B produksi antibodi.
Imunoglobulin kolam
dapat menetralisir antibodi spesifik dan mencegah sel T aktivasi.
Antibodi sintetis dan peptida telah diciptakan untuk meniru SAG-mengikat daerah
pada MHC kelas II, menghalangi interaksi dan mencegah aktivasi sel T.
Imunosupresan juga digunakan
untuk mencegah aktivasi sel T dan pelepasan sitokin. Kortikosteroid digunakan
untuk mengurangi efek inflamasi.
Evolusi produksi
superantigen SAg
Produksi Sag secara
efektif merusak respon kekebalan, yang memungkinkan mensekresi mikroba SAG yang
akan dilakukan dan dikirim dicentang. Salah satu mekanisme dimana hal ini
dilakukan adalah melalui menginduksi anergi dari T-sel terhadap antigen dan
sags. Lussow dan MacDonald menunjukkan hal ini dengan sistematis
mengekspos hewan terhadap antigen streptokokus. Mereka menemukan bahwa paparan
antigen lain setelah infeksi SAG gagal mendapatkan respon imun. Dalam
eksperimen lain, Watson dan Lee menemukan bahwa memori T-sel diciptakan oleh
stimulasi antigen yang normal adalah anergic merosot stimulasi dan bahwa memori
T-sel dibuat setelah infeksi SAG adalah anergic untuk semua stimulasi antigen.
Mekanisme yang terjadi ini adalah belum ditentukan. Gen-gen yang mengatur
ekspresi SAG juga mengatur mekanisme penghindaran kekebalan tubuh seperti
protein M dan kapsul bakteri ekspresi, mendukung hipotesis bahwa produksi SAG
berkembang terutama sebagai mekanisme penghindaran kekebalan tubuh.
Bila struktur domain
SAG individu telah dibandingkan dengan imunoglobulin protein pengikat
streptokokus (seperti yang racun yang diproduksi oleh E. coli ) ditemukan bahwa
domain secara terpisah menyerupai anggota keluarga-keluarga. Homologi ini
menunjukkan bahwa sags berevolusi melalui rekombinasi dua lebih kecil B-untai
motif.
Endogenous
SAgs
Limfosit merangsang
kecil (MLS) exotoxins awalnya ditemukan di thymus sel stroma
mencit. Toksin ini dikodekan oleh gen SAG yang dimasukkan ke dalam genom
mouse dari virus tikus tumor mammae ( MMTV ). Kehadiran gen dalam genom tikus
memungkinkan tikus untuk mengekspresikan antigen dalam timus sebagai sarana
negatif memilih untuk limfosit dengan daerah Beta variabel yang rentan terhadap
rangsangan oleh SAG virus. Hasilnya adalah bahwa tikus adalah kekebalan
tubuh terhadap infeksi oleh virus kemudian hari.
Similar endogenous
SAg-dependent selection belum diidentifikasi dalam genom manusia, tetapi
sags endogen telah ditemukan dan diduga memainkan peran integral dalam infeksi
virus. Infeksi oleh virus Epstein-Barr , diketahui menyebabkan produksi SAG
dalam sel yang terinfeksi, belum ada gen untuk racun ditemukan pada genom
virus. Virus ini memanipulasi sel yang terinfeksi untuk mengekspresikan gen
sendiri SAG, dan ini membantu untuk menghindari sistem kekebalan tubuh inang.
Hasil serupa ditemukan dengan rabies , sitomegalovirus , dan HIV .
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena
adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting
adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia
ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh,
hanya saja lebih jarang dijumpai.Transfusi darah dari golongan yang tidak
kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia
hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
1. Golongan darah A
2. Golongan darah B
3. Golongan darah AB
4. Golongan darah O
Selain itu tahun 1940 ditemukan golongan darah baru yaitu Rhesus Faktor positif dan rhesus faktor negatif pada sel darah merah (erythrocyt). RhesusFaktor positif banyak terdapat pada orang Asia dan Negatif Pada orang Eropah, Amerika, Australia.